Pemkab Barsel

Karhutla Masih Mengkhawatirkan, BPBD Barsel Siap Perpanjang Status Tanggap Darurat

Sampurna News
18
×

Karhutla Masih Mengkhawatirkan, BPBD Barsel Siap Perpanjang Status Tanggap Darurat

Sebarkan artikel ini
IMG 20260831 185334 scaled
Oplus_0

Foto: Kepala BPBD Barsel, Agus In Yulius

BUNTOK, SampurnaNews.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Barito Selatan (Barsel) masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi cuaca yang kering, sebaran hotspot, hingga medan yang sulit dijangkau membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barsel bersiap menghadapi kemungkinan perpanjangan Status Tanggap Darurat Karhutla.

Kepala BPBD Kabupaten Barito Selatan, Agus In Yulius, mengatakan status tanggap darurat yang saat ini berlaku ditetapkan selama 30 hari dan dijadwalkan berakhir pada 5 September 2026.

Namun, berakhirnya masa berlaku tersebut tidak otomatis membuat status tanggap darurat dihentikan. Keputusan akan melihat perkembangan kondisi Karhutla di lapangan.

“Status siaga kemarin hanya 17 hari, karena terjadi peningkatan sehingga akhirnya kita naikkan statusnya menjadi Tanggap Darurat,” ujar Agus di Buntok, Senin (31/8/2026).

Menurutnya, apabila hingga mendekati batas waktu kondisi Karhutla masih mengkhawatirkan dan belum memungkinkan untuk dilakukan penghentian status, maka perpanjangan dapat dilakukan.

“Kalau kondisi di lapangan belum memungkinkan untuk mengakhiri status tanggap darurat, tentu masih dapat diperpanjang,” jelasnya.

BTT Disiapkan Sesuai Kebutuhan. Agus menjelaskan, selama masa tanggap darurat, operasional penanganan Karhutla didukung melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) yang berada pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Barsel.

“Untuk pencairan BTT, hanya perlu verivikasi dari inspektorat Kabupaten saja, lalu dana yang diusulkan bisa langsung dicairkan di BPKAD,”jelasnya.

Namun, BPBD belum dapat memastikan berapa besar anggaran BTT yang akan terserap. Penggunaannya akan menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan penanganan di lapangan.

“Untuk BTT ini kita memang belum bisa memastikan berapa-berapanya. Karena semua akan tergantung kondisi yang ada, menyesuaikan kebutuhan,” katanya.

Stok BBM Sempat Menjadi Kendala. Selain kondisi lapangan, BPBD Barsel juga menghadapi kendala operasional berupa ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan maupun peralatan pemadaman.

Agus menegaskan, persoalan tersebut bukan disebabkan keterbatasan anggaran, melainkan karena stok BBM di sejumlah SPBU yang terkadang kosong.

“Kita kan harus mengisi BBM di SPBU. Sementara kita tahu sendiri kondisi di daerah Buntok, kendalanya sering kali di SPBU yang mengalami kekosongan. Jadi saat kita ingin mengisi BBM, BBM-nya yang tidak ada. Bukan karena tidak ada anggarannya,” ungkapnya.

Untuk mengatasi kebutuhan mendesak, BPBD mendapat dukungan dari Polres Barito Selatan. Bahkan, Kapolres Barsel mengarahkan agar untuk sementara kebutuhan BBM operasional penanganan Karhutla dapat menggunakan BBM milik Polres.

“Untuk kebutuhan mendesak, Pak Kapolres sendiri sudah mengarahkan agar sementara bisa menggunakan BBM milik Polres. Jadi kami bisa katakan bahwa saat ini kendala BBM bisa diatasi,” kata Agus.

Di sisi lain, kebutuhan logistik personel yang terlibat dalam penanganan Karhutla, terutama makan dan minum, sejauh ini masih dapat dipenuhi.

Untuk peralatan pemadaman, Agus mengakui terdapat sejumlah mesin yang mengalami kerusakan. Kendati demikian, BPBD terus melakukan perbaikan agar peralatan tersebut bisa kembali dioperasikan.

Menurut Agus, tantangan paling berat saat ini bukan hanya terkait peralatan dan logistik, tetapi sebaran hotspot, luas lahan terbakar, serta kondisi medan yang sulit dijangkau.

“Yang pasti, kendala terbesar yang kami hadapi saat ini adalah sebaran hotspot, luasan lahan yang terbakar serta sulitnya medan yang dihadapi. Kalau yang lain-lain, kita bersyukur semuanya bisa teratasi secara baik dengan adanya kerja sama serta koordinasi antarinstansi terkait,” pungkasnya. (IB1)