Kotawaringin Timur

Karhutla dan Kemarau Panjang, Warga Kuala Kuayan Banyak Terserang ISPA dan Diare

Sampurna News
15
×

Karhutla dan Kemarau Panjang, Warga Kuala Kuayan Banyak Terserang ISPA dan Diare

Sebarkan artikel ini
Screenshot 2026 09 07 17 29 17 79 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

Foto: Camat Mentaya Hulu H.M. Edison, S.Kep., Ns., didampingi Waka Polsek Mentaya Hulu Ipda Zeth dan Lurah Kuala Kuayan Dadang Arianto melakukan kunjungan ke Puskesmas Kuala Kuayan, Senin (7/9/2026).
Kuala Kuayan, SampurnaNews.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta musim kemarau berkepanjangan mulai berdampak terhadap kondisi kesehatan masyarakat di wilayah Kuala Kuayan, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Hal tersebut diketahui setelah Camat Mentaya Hulu H.M. Edison, S.Kep., Ns., didampingi Waka Polsek Mentaya Hulu Ipda Zeth dan Lurah Kuala Kuayan Dadang Arianto melakukan kunjungan ke Puskesmas Kuala Kuayan, Senin (7/9/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat sekaligus melihat penyakit yang banyak diderita warga di tengah kondisi Karhutla dan kemarau panjang.

“Dari hasil kunjungan kita di puskesmas, banyak pasien yang menderita ISPA dan diare. Ini dampak terjadinya Karhutla dan musim kemarau panjang,” kata H.M. Edison kepada awak media.

Ia menjelaskan, kasus ISPA yang dialami masyarakat diduga berkaitan dengan paparan kabut asap akibat Karhutla. Sementara kasus diare diduga berkaitan dengan penggunaan air sungai untuk mandi maupun kebutuhan konsumsi.

Menurutnya, kondisi sungai selama musim kemarau juga perlu mendapat perhatian. Terlebih masih ditemukan aktivitas penangkapan ikan secara ilegal dengan menggunakan racun maupun setrum yang berpotensi mencemari lingkungan perairan.

“Akibat masih maraknya masyarakat mencari ikan secara ilegal, sungai menjadi tercemar dan tidak jarang ditemukan banyak ikan mati di sungai,” ujarnya.

Untuk meminimalisir risiko penyakit, Edison mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan air sungai, terutama untuk mandi dan kebutuhan konsumsi.

“Kami meminta masyarakat tidak sembarangan mandi dan mengonsumsi air sungai, terlebih dalam kondisi seperti sekarang,” tegasnya.

Sementara itu, Waka Polsek Mentaya Hulu Ipda Zeth mengatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan dengan alasan apapun.

Ia menegaskan, pihak kepolisian juga melakukan penyelidikan terhadap dugaan pembakaran yang dilakukan secara sengaja.

“Ada pelaku-pelaku yang sengaja melakukan pembakaran. Saat ini sedang kami cari pelakunya, dan bila terbukti akan kami proses sesuai ketentuan hukum. Ini sesuai dengan instruksi pimpinan,” katanya.

Ia mengakui terdapat peningkatan jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Kecamatan Mentaya Hulu dibandingkan hari-hari sebelumnya. Saat ini tercatat lebih dari 20 titik yang tersebar di sejumlah desa.

Terkait kasus diare yang diduga berkaitan dengan pencemaran air sungai akibat aktivitas illegal fishing menggunakan setrum maupun racun, pihaknya juga akan melakukan upaya pencegahan dan penindakan.

“Kita berupaya melakukan koordinasi dan penyelidikan untuk menangkap pelaku. Kepada warga, agar segera melapor apabila mengetahui adanya kegiatan illegal fishing, sehingga pelaku bisa ditindak sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Lurah Kuala Kuayan Dadang Arianto mengatakan, pihak kelurahan telah melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi terjadinya Karhutla. Salah satunya dengan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA).

Selain itu, setiap RT diminta menyediakan mesin pompa air untuk mendukung penanganan apabila terjadi kebakaran lahan di wilayah permukiman.

Terkait kebutuhan air bersih, pihak kelurahan juga telah berkoordinasi dengan PDAM. Masyarakat di setiap RT diminta menyiapkan tong atau tempat penampungan air sebagai wadah apabila dilakukan distribusi air bersih.

“Untuk air bersih, kita telah melakukan koordinasi dengan pihak PDAM. Mereka meminta agar masyarakat di setiap RT menyediakan tong atau tempat penampungan air, sehingga ketika air didistribusikan, wadah sudah siap,” jelas Dadang.

Terkait masih adanya aktivitas illegal fishing, Dadang meminta masyarakat yang melakukan kegiatan tersebut agar menghentikannya karena dapat merugikan masyarakat luas dan mencemari lingkungan.

Ia juga mengimbau warga yang mengetahui adanya aktivitas penangkapan ikan menggunakan cara ilegal agar segera melaporkannya kepada pihak berwajib.

“Kepada camat, kami mengucapkan terima kasih atas dukungannya selama ini. Kepada masyarakat, mari kita bersama-sama menjaga lingkungan masing-masing agar dapat meminimalisir terjadinya Karhutla dan illegal fishing,” harapnya.
Screenshot 2026 09 07 18 25 42 96 680d03679600f7af0b4c700c6b270fe7
Sementara itu, Kepala Puskesmas Kuala Kuayan Fitri, S.Kep., Ns., mengatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat guna mencegah berbagai penyakit yang berpotensi muncul akibat kondisi lingkungan selama musim kemarau.

Khususnya kepada para orang tua, pihak puskesmas mengimbau agar tidak membiarkan anak-anak mandi di sungai untuk mengurangi risiko terkena penyakit diare.

Sementara untuk mengantisipasi ISPA akibat kabut asap, sosialisasi dilakukan mulai dari lingkungan masyarakat hingga sekolah. Anak-anak juga diimbau menggunakan masker serta menerapkan pola hidup sehat.

“Berdasarkan hasil penelusuran kita, penyakit yang banyak ditemukan adalah ISPA dan diare. Untuk diare diduga akibat penggunaan air sungai untuk mandi, sedangkan ISPA berkaitan dengan kabut asap Karhutla,” jelas Fitri.

Meski demikian, Fitri memastikan kondisi pasien yang datang ke Puskesmas Kuala Kuayan sejauh ini masih dapat ditangani di tingkat puskesmas dan belum memerlukan rujukan ke RSUD.

“Setelah pasien datang, kita tangani dan bisa pulang. Sampai saat ini belum ada yang harus dirujuk ke RSUD,” pungkasnya. (IB1)