Pemkab Barsel

Tips dr. Dadang Baskoro Nugroho Cegah Bahaya ISPA Akibat Polusi Udara Karhutla

Sampurna News
38
×

Tips dr. Dadang Baskoro Nugroho Cegah Bahaya ISPA Akibat Polusi Udara Karhutla

Sebarkan artikel ini
IMG 20260905 065635
Oplus_0

Foto : Kepala Dinkes Barsel, dr. Dadang Baskoro Nugroho

Buntok, SampurnaNews.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seiring maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.

Berdasarkan data Dinkes Barsel, kasus ISPA pada Juni 2026 tercatat sebanyak 584 kasus. Angka tersebut meningkat menjadi 953 kasus pada Juli dan kembali melonjak pada Agustus hingga mencapai 1.123 kasus.

Kepala Dinkes Barsel, dr. Dadang Baskoro Nugroho, mengatakan musim kemarau menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya gangguan pernapasan masyarakat. Debu maupun partikel polutan di udara dapat dengan mudah terbawa angin dan terhirup sehingga mengiritasi saluran pernapasan.

“Kasus ISPA memang jauh lebih mudah menyebar di daerah-daerah yang terdampak langsung oleh bencana karhutla,” tegas Dadang, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, ISPA dapat menyerang saluran pernapasan bagian atas, mulai dari hidung hingga pita suara, maupun saluran pernapasan bagian bawah yang mencakup area dari pita suara hingga paru-paru.

Meski ISPA umumnya disebabkan oleh virus dan bakteri, paparan asap karhutla yang mengandung partikel mikroskopis dapat meningkatkan risiko iritasi dan peradangan pada saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Kelompok Rentan
Dadang mengingatkan masyarakat agar memberikan perhatian lebih kepada kelompok rentan yang berisiko mengalami dampak lebih serius akibat paparan asap dan polusi udara.

Kelompok tersebut antara lain penderita penyakit pernapasan kronis seperti asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), tuberkulosis (TB) paru, dan kanker paru. Selain itu, penderita diabetes, penyakit jantung, gagal ginjal, lansia, serta anak-anak juga perlu mendapat perhatian khusus.

“Lansia ikut menjadi kelompok dengan risiko ISPA tinggi karena terjadi penurunan fungsi organ, termasuk saluran pernapasan, seiring bertambahnya usia. Sedangkan anak-anak termasuk dalam kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena saluran pernapasan mereka masih berkembang dan berdiameter lebih kecil,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat saluran pernapasan anak lebih mudah mengalami penyumbatan ketika terjadi peradangan maupun penumpukan dahak.
Kenali Gejala ISPA
Masyarakat juga diminta mengenali gejala ISPA sejak dini. Beberapa gejala yang umum muncul antara lain batuk, pilek, serta iritasi pada hidung dan tenggorokan.

Apabila kondisi semakin memburuk, penderita dapat mengalami demam, produksi dahak yang meningkat dan berubah warna, hingga sesak napas.

“Tanda-tanda ini antara lain demam yang tidak turun, dahak semakin banyak dan berwarna kekuningan, sesak napas yang memburuk, mual, muntah, atau diare.
Patokannya bukan ISPA dari infeksi virus atau bakteri itu mana yang paling berat, tetapi pada gejalanya,” paparnya.

Untuk gangguan ringan akibat paparan debu atau asap dalam waktu singkat, kondisi kesehatan umumnya dapat membaik dalam beberapa hari. Namun, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila keluhan tidak kunjung membaik atau justru semakin berat.

Cara Mencegah ISPA Saat Kabut Asap
Untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat kabut asap karhutla, Dinkes Barsel mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara sedang buruk.

“Batasi kegiatan di luar ruangan atau yang berhubungan langsung dengan paparan kabut asap dan gunakan masker jika terpaksa harus ke luar ruangan dan terpapar dengan kabut asap,” imbaunya.

Masyarakat juga dianjurkan menciptakan lingkungan rumah yang minim paparan asap. Ketika kabut asap mulai masuk ke permukiman, pintu dan jendela sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya polutan dari luar.

Selain perlindungan dari paparan asap, menjaga kondisi tubuh juga penting. Masyarakat dianjurkan memenuhi kebutuhan nutrisi dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, termasuk sayur dan buah yang menjadi sumber serat.

“Nah, yang paling sering kita kurang itu serat. Serat itu ada di sayur, ada di buah. Jadi enggak perlu kita sebenarnya harus mahal-mahal untuk itu, cukup kita mengonsumsi sayur dan buah, seperti pepaya, pisang secara rutin,” kata Dadang.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kecukupan cairan dengan mengonsumsi air putih secara rutin agar tubuh tetap terhidrasi.

Sementara untuk penggunaan suplemen atau vitamin tambahan, termasuk vitamin C, masyarakat diminta tidak mengonsumsinya secara berlebihan.

“Karena suplemen itu tidak ada yang 100 persen aman. Semuanya punya efek. Sama dengan misalkan konsumsi vitamin C. Tapi kalau vitamin C terlalu berlebihan, bisa juga bikin asam lambung masalah. Kedua, bisa gampang terjadi pembentukan batu ginjal,” pungkasnya. (IB1).