Barito Selatan

Di Tengah Karhutla, Siswa Barsel Kembangkan Aplikasi Edukasi Berbasis AR

Sampurna News
30
×

Di Tengah Karhutla, Siswa Barsel Kembangkan Aplikasi Edukasi Berbasis AR

Sebarkan artikel ini
Screenshot 2026 09 23 12 01 21 84 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

Foto : Pramudito Enggar Nurcahyo Subagio, siswa SMP Negeri 1 Dusun Selatan saat
foto bersama guru pembimbing Arief Angky Suseno, S. Pd. (ist)

BUNTOK, SampurnaNews.com – Di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah, kreativitas pelajar di Kabupaten Barito Selatan (Barsel) justru tumbuh melalui pemanfaatan teknologi.

Salah satunya dilakukan Pramudito Enggar Nurcahyo Subagio, siswa SMP Negeri 1 Dusun Selatan. Bersama guru pembimbingnya, Arief Angky Suseno, ia mengembangkan aplikasi edukasi berbasis Augmented Reality (AR) yang mengangkat tema pencegahan karhutla.

Gagasan tersebut berawal dari kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar. Karhutla tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas masyarakat, kesehatan, hingga proses pembelajaran.

Kondisi itu kemudian mendorong Pramudito memanfaatkan teknologi sebagai sarana edukasi. Melalui aplikasi yang dikembangkan, pengguna diajak mengenali potensi penyebab kebakaran, memahami dampak karhutla, serta mengetahui langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegahnya.
Screenshot 2026 09 23 11 57 30 05 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7
Berbeda dengan media pembelajaran konvensional, aplikasi tersebut memanfaatkan teknologi AR untuk menghadirkan informasi secara lebih interaktif. Materi yang sebelumnya hanya disampaikan melalui teks atau gambar dikemas menjadi pengalaman belajar visual yang lebih menarik.

Pengembangan aplikasi tersebut dilakukan saat pembelajaran dari rumah (BDR). Bagi Pramudito, kondisi tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk mengikuti pembelajaran, tetapi juga kesempatan mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya yang berangkat dari persoalan nyata di lingkungan sekitar.

Arief Angky Suseno mengatakan, proyek tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan ide, kreativitas, sekaligus kemampuan memanfaatkan teknologi.

Menurutnya, persoalan di lingkungan sekitar dapat menjadi sumber belajar yang kontekstual bagi siswa. Dengan mengamati persoalan kemudian mencoba mencari solusi melalui teknologi, siswa tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga dapat menghasilkan karya yang memiliki nilai edukasi.

“Proyek interaktif ini hadir sebagai sarana edukasi yang dekat dengan keseharian murid dan masyarakat. Kami ingin meningkatkan kesadaran bersama akan bahaya nyata yang ditimbulkan oleh karhutla,” ujar Arief kepada awak media, Senin (21/9/2026).

Arief menambahkan, karya tersebut tidak ingin berhenti sebagai proyek pembelajaran semata. Setelah memenuhi persyaratan, pihaknya berencana mengupayakan pendaftaran hak cipta sebagai bentuk perlindungan terhadap hasil kreativitas siswa.

“Kami ingin karya siswa tidak berhenti sebagai sebuah proyek pembelajaran. Karya ini akan terus dikembangkan dan, setelah memenuhi persyaratan, kami akan mengupayakan pendaftaran hak cipta sebagai bentuk perlindungan terhadap hasil kreativitas siswa,” katanya.

Pengembangan aplikasi AR tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat menjadi sumber inspirasi dalam proses pembelajaran. Karhutla yang menjadi persoalan serius di Kalimantan Tengah tidak hanya dihadapi melalui penanganan di lapangan, tetapi juga dapat direspons melalui edukasi dan inovasi teknologi.

Melalui karya tersebut, Pramudito berharap semakin banyak siswa dan masyarakat memahami bahwa pencegahan karhutla dapat dimulai dari kepedulian serta tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

“Inovasi ini sekaligus mendorong budaya belajar yang menempatkan siswa bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai kreator yang mampu memanfaatkannya untuk menyampaikan pesan edukasi dan merespons persoalan di lingkungan sekitar,” tutupnya.(IB1).