Pemkab Barsel

Berjibaku Menjinakkan Api, Menjaga Barsel dari Kepungan Karhutla

Sampurna News
33
×

Berjibaku Menjinakkan Api, Menjaga Barsel dari Kepungan Karhutla

Sebarkan artikel ini
Screenshot 2026 09 29 15 21 59 81 680d03679600f7af0b4c700c6b270fe7

Foto: BPBD Barsel dan tim terpadu saat memadamkan karhutla (ist).

BUNTOK, SampurnaNews.com – Matahari belum sepenuhnya bersahabat ketika sejumlah personel mulai bergerak menuju lokasi kebakaran. Peralatan pemadam disiapkan. Selang dibentangkan. Mesin pompa mulai dihidupkan. Di kejauhan, kepulan asap masih menggantung di antara pepohonan dan semak yang mengering.

Bagi sebagian orang, asap menjadi tanda untuk menjauh. Namun bagi para petugas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kepulan asap justru menjadi pertanda bahwa mereka harus bergerak mendekat.

Sejak Pemerintah Kabupaten Barito Selatan (Barsel) menetapkan status tanggap darurat bencana karhutla dan kekeringan ekstrem, aktivitas tim di lapangan seolah tidak mengenal waktu.

Personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Manggala Agni dan unsur terkait lainnya harus berjibaku hampir setiap hari untuk menjinakkan kobaran api yang muncul di sejumlah wilayah.

Medannya tidak mudah. Tanah kering, semak belukar, cuaca panas, keterbatasan sumber air hingga asap pekat menjadi bagian dari tantangan yang harus mereka hadapi.

Namun ketika laporan kebakaran masuk, pilihan mereka hanya satu: bergerak. Tak jarang petugas harus meninggalkan kendaraan di lokasi yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Selang pemadam kemudian ditarik sejauh mungkin menuju titik api.

Air diarahkan ke kobaran. Sebagian personel menyisir sisi lain untuk memastikan api tidak merambat. Sementara petugas lainnya melakukan pendinginan pada lahan yang telah terbakar.

Keringat bercampur asap menjadi pemandangan sehari-hari. Baju yang basah bukan karena hujan, melainkan keringat. Wajah yang menghitam bukan karena lumpur, tetapi akibat asap dan panas yang terus menyelimuti lokasi.

Namun mereka tetap bertahan. Sebab, api yang terlihat kecil belum tentu benar-benar padam.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Barsel, Edi Darmadi, mengatakan penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai unsur.

Menurutnya, kondisi di lapangan membutuhkan kesiapsiagaan tinggi karena api dapat kembali muncul, terutama pada kawasan yang masih kering dan mudah terbakar.

“Kami bersama tim terus melakukan pemantauan dan penanganan di lapangan. Begitu ada laporan titik api, personel segera bergerak untuk melakukan pemadaman dan memastikan api tidak meluas,” kata Edi, Selasa (29/9/2026).

Ia menjelaskan, tugas petugas tidak berhenti setelah kobaran api berhasil dipadamkan. Pendinginan dan pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala.

Sebab, bara yang berada di dalam tanah, tumpukan semak maupun material kering bisa kembali menjadi api ketika tertiup angin.

“Setiap ada laporan kebakaran, kami langsung bergerak bersama tim. Kondisi di lapangan memang tidak mudah, apalagi cuaca masih panas dan kering. Tetapi kami tidak boleh membiarkan api berkembang dan meluas ke wilayah lainnya,” tegasnya.

IMG 20260929 152635
Oplus_0

Foto; Edi Darmadi

Menurut Edi, petugas harus memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.

“Petugas harus berjibaku memadamkan api sekaligus melakukan pendinginan. Setelah api terlihat padam, lokasi tetap kami pantau karena bara di dalam tanah atau semak kering bisa kembali menyala,” ujarnya.

Di tengah kondisi yang serba sulit itu, keselamatan masyarakat menjadi alasan utama para petugas terus berada di garis depan.

Satu titik api mungkin terlihat kecil. Namun ketika berada di tengah lahan yang kering, api dapat dengan cepat menjalar mengikuti arah angin.

Karena itu, setiap laporan kebakaran tidak boleh dianggap sepele, untuk itu,
Edi juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, termasuk untuk membersihkan atau membuka lahan.

“Ini bukan hanya tugas petugas. Kami membutuhkan dukungan masyarakat. Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, karena kondisi sekarang sangat mudah terbakar dan risikonya bisa meluas,” tegasnya.

Hari demi hari, perjuangan itu terus berlangsung. Ketika sebagian masyarakat berusaha menghindari asap dan panas, para petugas justru bergerak menuju sumbernya.

Mereka masuk ke lokasi yang panas, menyusuri lahan yang terbakar, mengangkat selang, mengoperasikan pompa dan menyemprotkan air hingga kobaran benar-benar melemah.

Ketika satu titik api berhasil dijinakkan, pekerjaan belum selesai. Masih ada bara yang harus diperiksa. Masih ada lahan yang harus dipantau. Dan masih ada kemungkinan munculnya titik api baru.

Di tengah musim kering dan ancaman karhutla yang belum sepenuhnya berakhir, para petugas menjadi salah satu benteng terdepan dalam menjaga Barsel.

Mereka bukan sekadar memadamkan api.
Di balik asap yang menyesakkan dan panas yang membakar kulit, ada upaya untuk menjaga rumah warga, hutan dan lahan, lingkungan, kesehatan, serta keselamatan masyarakat Barsel.

Api boleh membesar, tetapi perjuangan untuk menjinakkannya tidak boleh padam.
(IB1)