Foto: Arief Angky Suseno, S.Pd saat menunjukkan Aplikasi yang dikembangkannya. (Ist).
BUNTOK, SampurnaNews.com – Inovasi pembelajaran berbasis teknologi terus dikembangkan para guru di Kabupaten Barito Selatan (Barsel). Salah satunya dilakukan Arief Angky Suseno, S.Pd., guru SMP Negeri 1 Dusun Selatan, melalui aplikasi pembelajaran matematika bernama “TransformasiKu”.
TransformasiKu merupakan program komputer berbasis web yang dirancang sebagai lingkungan belajar matematika interaktif, khususnya untuk materi Transformasi Geometri bagi siswa kelas IX.
Aplikasi ini menghadirkan berbagai fitur pembelajaran, mulai dari materi, simulasi interaktif, aktivitas eksplorasi, latihan, evaluasi, pemantauan perkembangan belajar hingga refleksi. Siswa dapat mengaksesnya menggunakan laptop, tablet maupun handphone.

“Aplikasi dapat diakses dengan mudah oleh siswa menggunakan perangkat laptop, tablet atau handphone,” kata Arief kepada awak media, Selasa (1/9/2026).
Namun, TransformasiKu tidak lahir semata-mata dari keinginan membuat sebuah aplikasi pembelajaran. Gagasan tersebut berawal dari pertanyaan sederhana Arief tentang bagaimana membantu siswa memahami Transformasi Geometri tanpa hanya menghafalkan rumus.
Dalam pembelajaran, ia menemukan masih ada siswa yang mengalami kesulitan menghubungkan konsep dengan perubahan posisi suatu objek pada bidang koordinat. Translasi, refleksi, rotasi dan dilatasi kerap dipahami sebatas aturan dan rumus.
Padahal, menurutnya, di balik setiap rumus terdapat proses perubahan yang sebenarnya dapat diamati secara visual.
Dari situlah perjalanan TransformasiKu dimulai.
Sebagai guru matematika sekaligus informatika, Arief mencoba memadukan dua bidang yang selama ini dijalaninya. Matematika diposisikan sebagai ilmu yang perlu dipahami secara konseptual, sedangkan teknologi dimanfaatkan sebagai sarana untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif.
Dalam pengembangannya, Arief merancang bagaimana siswa memasuki aplikasi, mengeksplorasi materi, menggunakan simulasi, mengerjakan aktivitas, memantau perkembangan belajar hingga melakukan refleksi.
Setiap fitur tidak sekadar dibuat agar terlihat menarik. Ia berusaha memastikan setiap bagian memiliki fungsi dalam proses pembelajaran.
“Apa yang akan dilakukan siswa dengan fitur ini? Apa yang akan mereka pikirkan? Dan bagaimana fitur ini membantu mereka belajar?” demikian pertanyaan yang menjadi bagian dari proses pengembangan aplikasi tersebut.
Perjalanan membangun TransformasiKu juga tidak selalu berjalan mulus. Tampilan aplikasi harus beberapa kali diperbaiki. Simulasi yang belum berjalan sesuai harapan harus dicari penyebabnya. Alur pembelajaran pun kembali dipikirkan agar aplikasi tidak sekadar menjadi kumpulan halaman digital.
Bahkan hal-hal kecil seperti tombol, petunjuk, umpan balik dan navigasi turut diperhatikan karena semuanya menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa.
Dari proses tersebut, TransformasiKu berkembang menjadi lingkungan belajar matematika berbasis web dengan simulasi interaktif.
Melalui aplikasi ini, siswa tidak hanya membaca materi. Mereka diberi kesempatan untuk mengamati perubahan objek, mencoba berbagai kondisi, menemukan pola, menguji pemahaman, memantau proses belajar dan melakukan refleksi.
Bagi Arief, nama “TransformasiKu” memiliki makna lebih dari sekadar materi Transformasi Geometri yang dipelajari siswa.
Kata transformasi juga menggambarkan harapan terhadap proses belajar itu sendiri, yakni perubahan dari sekadar melihat menjadi memahami, dari mencoba menjadi menemukan, serta dari bergantung pada petunjuk menjadi semakin mampu mengatur proses belajarnya sendiri.
Meski telah dikembangkan menjadi aplikasi pembelajaran interaktif, Arief menyadari TransformasiKu masih merupakan karya yang terus berkembang.
Baginya, sebuah aplikasi pembelajaran tidak selesai hanya ketika kode berhasil dijalankan. Aplikasi baru benar-benar bermakna ketika mampu memberikan pengalaman belajar yang membantu siswa memahami matematika dengan lebih baik.
“Perjalanan TransformasiKu bagi saya bukan sekadar perjalanan membuat sebuah aplikasi. Ini adalah perjalanan seorang guru yang mencoba menghadirkan ruang belajar yang lebih bermakna bagi siswanya,” ujarnya.
Dari sebuah keresahan, lahirlah sebuah gagasan, dari gagasan, lahirlah sebuah karya.
“Dari karya tersebut, diharapkan lahir pengalaman belajar yang membantu siswa menemukan bahwa matematika bukan hanya sesuatu yang harus dihafalkan, tetapi sesuatu yang dapat dieksplorasi, dipahami dan ditemukan,” tutupnya.(IB1).







