Pemkab Barsel

Hantasan Alimudin Mengering, Pemkab Barsel Cari Solusi Akses Warga Dusun Hilir

Sampurna News
580
×

Hantasan Alimudin Mengering, Pemkab Barsel Cari Solusi Akses Warga Dusun Hilir

Sebarkan artikel ini
IMG 20260927 WA0041

Foto: Tim terpadu saat melakukan survei di Hantasan Alimudin Kecamatan Dusun Hilir. (ist).

BUNTOK, SampurnaNews.com – Kondisi kekeringan ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Barito Selatan (Barsel) mulai berdampak serius terhadap akses transportasi masyarakat. Salah satunya terjadi di Hantasan Sungai Alimudin, Kecamatan Dusun Hilir, yang kini mengalami kekeringan dan tidak dapat dilalui seperti biasanya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena Hantasan Alimudin merupakan salah satu akses penting bagi masyarakat Desa Pinungku, Desa Lehai, Dusun Pinungku dan Kelurahan Mangkatip.

Untuk mencari solusi atas persoalan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barsel bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta didampingi Plt.camata Dusun Hilir, Kepala Desa Mangkatir, Kades Lehai dan Lurah Mangkatip turun langsung melakukan survei ke lokasi, Minggu (27/9/2026).

Plt.Camat Dusun Hilir Hidayat mengatakan, survei tersebut dilakukan untuk mendapatkan data dan gambaran kondisi di lapangan secara langsung. Hasil survei nantinya akan menjadi bahan pembahasan dalam rapat koordinasi terkait kondisi kekeringan, Karhutla dan rencana pembangunan embung.

“Data dari survei ini akan kita sampaikan pada Rakor Bahas Kekeringan, Karhutla dan Rencana Embung,” kata Hidayat kepada awak media, Minggu (27/9/2026).

Menurutnya, peninjauan ke Hantasan Sungai Alimudin tersebut juga merupakan tindak lanjut atas perhatian Bupati dan Wakil Bupati Barsel terhadap kondisi masyarakat yang terdampak kekeringan.

Ia menegaskan, pemerintah perlu memiliki data yang jelas mengenai kondisi sungai dan dampaknya terhadap masyarakat, sehingga solusi yang diambil nantinya benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

“Ini merupakan atensi khusus dari Bupati dan Wakil Bupati agar kondisi di lapangan mendapatkan data yang jelas, sehingga dapat dicarikan solusi,” ujarnya.IMG 20260927 WA0042

Sementara itu, Kepala BPBD Barsel Agus In’ Yulius mengatakan, setelah turun langsung ke lokasi, pihaknya memperoleh gambaran lebih jelas mengenai kondisi Hantasan Sungai Alimudin yang mengalami kekeringan.

Menurut Agus, hasil survei tersebut akan menjadi salah satu bahan pemerintah daerah dalam menentukan langkah penanganan, terutama berkaitan dengan kebutuhan masyarakat yang selama ini memanfaatkan jalur sungai sebagai akses menuju sejumlah desa.

“Setelah kita turun langsung ke lokasi, kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas terkait kondisi kekeringan di sana. Data ini akan menjadi bahan untuk pembahasan dan menentukan langkah selanjutnya,” kata Agus.

Masih dikatakannya Agus, Pemkab Barsel berencana akan menggelar rapat koordinasi untuk membahas kondisi kekeringan ekstrem, evaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), serta rencana pembangunan embung di wilayah tertentu.

“Rapat dijadwalkan berlangsung Senin (28/9/2026) pukul 13.00 WIB di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Barito Selatan.” kata Agus.

Ia menjelaskan, rakor tersebut merupakan tindak lanjut hasil kaji cepat BPBD Barsel serta informasi dari BMKG Sanggu mengenai kondisi cuaca selama Agustus-September 2026.

“Berdasarkan undangan rapat yang ditandatangani Bupati Barsel Eddy Raya Samsuri, kondisi cuaca tersebut berpotensi meningkatkan titik panas (hotspot) serta ancaman Karhutla dan kekeringan ekstrem di wilayah Barsel,” katanya.

Ada tiga agenda utama yang akan dibahas. Pertama, kondisi kekeringan di desa-desa Kecamatan Dusun Hilir yang mulai berdampak terhadap aktivitas masyarakat, termasuk terganggunya transportasi sungai akibat sejumlah anak sungai mengalami pendangkalan.

Kedua, evaluasi penanganan Karhutla hingga 28 September 2026, termasuk perkembangan kejadian dan langkah penanganan yang telah dilakukan pemerintah daerah bersama unsur terkait.

Ketiga, pembahasan proses rencana pembangunan embung di kawasan Kalahien–Pararapak–Madara sebagai salah satu upaya mendukung ketersediaan sumber air sekaligus menghadapi ancaman kekeringan.

“Pemerintah daerah berharap rakor tersebut tidak hanya menghasilkan langkah penanganan jangka pendek, tetapi juga solusi jangka panjang untuk menghadapi persoalan Karhutla dan ketersediaan air di sejumlah wilayah Barsel,” tutupnya.(IB1).