Foto: Karhula yang terjadi di Desa Madara belum lama ini.
BUNTOK,SampurnaNews.com – Kabut asap pekat yang menyelimuti Kabupaten Barito Selatan (Barsel), khususnya Kota Buntok, kian mengkhawatirkan. Tingginya konsentrasi polutan di udara beriringan dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah setempat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barsel, Agus In’yulius, mengungkapkan bahwa berdasarkan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sanggu pada Jumat (9/10/2026), kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut berkaitan dengan meningkatnya titik api dalam beberapa hari terakhir.
“Berdasarkan pemantauan titik panas terbaru pada Jumat (9/10/2026) pukul 06.00 WIB, terpantau sebanyak 383 titik. Sumber api terlihat berasal dari wilayah Barsel sendiri. Kecamatan Dusun Selatan menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot yang masih banyak,” ungkap Agus.
Data Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan mencatat sejumlah desa dan wilayah di Barsel memiliki jumlah titik panas yang tinggi selama periode 1 Agustus hingga 8 Oktober 2026.
Desa Madara tercatat sebanyak 1.567 titik, disusul Sungai Jaya 1.256 titik, Kalahien 1.038 titik, Marawan Lama 744 titik, serta Kelurahan Mangkatip sebanyak 344 titik.
Menurut Agus, data tersebut sejalan dengan pemantauan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) Eropa mengenai persebaran aerosol, yakni partikel halus di atmosfer yang dapat berasal dari asap dan debu. Konsentrasi aerosol terpantau tinggi di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan.
“Dari data tersebut, sumber api dinilai memang berasal dari wilayah Barsel, lalu asapnya menyebar ke daerah lain yang titik panasnya sedikit atau tidak ada sama sekali,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan, kecepatan angin di wilayah Barsel berada pada kisaran 2–5 knot atau sekitar 3,7–9,3 kilometer per jam. Kondisi angin tersebut, menurutnya, menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai persebaran asap yang menyelimuti wilayah setempat.
“Berdasarkan rangkaian data tersebut, bisa disimpulkan bahwa faktor utama kebakaran hutan dan lahan di Barito Selatan adalah banyaknya titik api yang terkonsentrasi di wilayah kita sendiri,” tegasnya.
Kondisi kabut asap tersebut turut tercermin dari data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Jumat (9/10/2026) pukul 07.00 WIB. Konsentrasi partikulat PM10 tercatat mencapai 1.000 µg/m³, sedangkan PM2.5 mencapai 659 µg/m³.
Tingginya konsentrasi partikel tersebut menunjukkan kondisi udara yang sangat buruk dan berisiko terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Di tengah kondisi tersebut, Agus mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil bagian dalam upaya pencegahan karhutla. Ia menegaskan, penanganan kebakaran tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah maupun petugas pemadam di lapangan.
“Pencegahan kebakaran lahan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi juga memerlukan peran aktif dan kesadaran semua pihak, termasuk masyarakat. Kami mengimbau warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di lingkungan sekitar,” katanya.
Agus juga meminta masyarakat, khususnya mereka yang beraktivitas di sekitar kawasan lahan gambut, agar lebih berhati-hati. Kondisi cuaca yang sangat kering membuat lahan mudah terbakar dan berpotensi memperluas kebakaran apabila tidak segera ditangani.
Ia menilai, karhutla yang berulang di lokasi yang sama perlu menjadi perhatian bersama, termasuk dalam meningkatkan upaya pencegahan dan pengawasan di lapangan.
Menurut Agus, kebakaran tidak selalu terjadi akibat kelalaian. Ia menyebut sebagian kejadian juga diduga melibatkan unsur kesengajaan.
“Tidak hanya kelalaian, sebagian juga akibat unsur kesengajaan menjadi penyebab karhutla. Oleh karena itu, khususnya yang beraktivitas di sekitar kawasan gambut untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran lahan dan hutan. Apalagi cuaca sangat kering saat ini,” pungkasnya. (IB1).







