Pemkab Barsel

Karhutla Belum Mereda, Tanggap Darurat Barsel Diperpanjang hingga 2 November

Sampurna News
15
×

Karhutla Belum Mereda, Tanggap Darurat Barsel Diperpanjang hingga 2 November

Sebarkan artikel ini
Screenshot 2026 10 05 10 08 41 64 439a3fec0400f8974d35eed09a31f914

Foto: Kepala Pelaksana BPBD Barito Selatan, Agus In’yulius.

BUNTOK, SampurnaNews.com – Pemerintah Kabupaten Barito Selatan kembali memperpanjang status Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kekeringan ekstrem. Perpanjangan tahap ketiga ini berlaku selama 30 hari, mulai 4 Oktober hingga 2 November 2026.

Keputusan tersebut diambil setelah rapat evaluasi yang dipimpin Bupati Barito Selatan Eddy Raya Samsuri, Jumat (2/10/2026), dengan mempertimbangkan kondisi Karhutla dan dampak kekeringan yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

Kepala Pelaksana BPBD Barito Selatan, Agus In’yulius, mengatakan status tanggap darurat sebelumnya ditetapkan sejak 5 Agustus hingga 3 September 2026. Status tersebut kemudian diperpanjang untuk periode 4 September hingga 3 Oktober 2026.

“Perpanjangan kembali masa tanggap darurat ini karena mempertimbangkan situasi Karhutla dan kekeringan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Barito Selatan,” kata Agus, Senin (5/10/2026).

Menurutnya, kondisi di lapangan masih membutuhkan penanganan serius. Selain kejadian kebakaran yang terus bermunculan, sejumlah titik api mulai mendekati kawasan perkebunan dan permukiman masyarakat.

Karena itu, selama masa perpanjangan, pemerintah daerah bersama TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, dunia usaha dan unsur terkait lainnya akan memperkuat koordinasi serta kesiapsiagaan menghadapi ancaman Karhutla.

“Perpanjangan ini dilakukan agar seluruh sumber daya yang ada dapat mempersiapkan diri secara maksimal dan optimal dalam melakukan penanggulangan Karhutla,” ujarnya.

Agus mengungkapkan, berdasarkan data hingga 4 Oktober 2026, Karhutla di Barsel telah terjadi sebanyak 239 kejadian, dengan total luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 1.119,96 hektare.

Kondisi tersebut bahkan masih terjadi memasuki awal Oktober. Dalam kurun 1 hingga 4 Oktober 2026 saja, tercatat sembilan kejadian Karhutla dengan luas lahan terbakar sekitar 34,5 hektare.

Tim di lapangan, lanjut Agus, tidak hanya melakukan pemadaman, tetapi juga melaksanakan pendinginan dan pembasahan terhadap lokasi yang telah terbakar.

Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya kembali bara api yang berpotensi memicu kebakaran susulan.

Ancaman bencana di Barsel tidak hanya berasal dari Karhutla. Kemarau panjang juga mulai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Agus menyebutkan, puluhan desa dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Bahkan, kondisi sungai yang semakin dangkal di sejumlah wilayah mulai mengganggu akses transportasi masyarakat.

“Bahkan kemarin laporan dari Camat Dusun Hilir, ada desa-desa yang terancam terisolir karena air sungai yang sangat dangkal sehingga tidak bisa dilalui oleh sarana transportasi air seperti kelotok,” ungkapnya.

Kabut Asap Jadi Ancaman Kesehatan
Selain kerusakan lingkungan dan terganggunya aktivitas masyarakat, kabut asap akibat Karhutla juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Agus mengatakan, kondisi kualitas udara di Barito Selatan selama September hingga awal Oktober menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan, terutama terkait kandungan partikulat PM10 dan PM2,5.

“Selama sebulan terakhir, ISPU kita setiap hari selalu berada pada angka atau level berbahaya, terutama kandungan PM10 dan PM2,5. Dan ini tentu sangat rawan terhadap kondisi kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Kondisi tersebut membuat penanganan Karhutla tidak bisa hanya berfokus pada pemadaman api. Pemerintah juga harus mengantisipasi dampaknya terhadap kesehatan, mobilitas, aktivitas ekonomi dan keselamatan masyarakat.

Sementara itu, Bupati Barito Selatan Eddy Raya Samsuri menegaskan bahwa keputusan memperpanjang status tanggap darurat merupakan langkah untuk memastikan seluruh penanganan bencana tetap berjalan optimal.

Menurutnya, hasil evaluasi menunjukkan potensi dan kejadian Karhutla masih tinggi sehingga diperlukan keterlibatan seluruh pihak secara berkelanjutan.

“Perpanjangan Tanggap Darurat Karhutla ini kita sepakati setelah melakukan rapat evaluasi bersama seluruh pihak terkait, dan berdasarkan evaluasi tersebut menunjukkan bahwa kondisi di lapangan diketahui kejadian dan potensi Karhutla masih sangat tinggi,” ujar Eddy Raya.

Ia menegaskan, persoalan Karhutla saat ini tidak lagi hanya dapat diukur dari jumlah titik api maupun luas lahan yang terbakar. Dampak asap telah merambah berbagai sektor kehidupan masyarakat.

“Saat ini, persoalannya bukan lagi hanya mengenai berapa hektare lahan yang terbakar atau berapa titik api yang berhasil dipadamkan. Tetapi juga sudah menyangkut langsung kesehatan dan keselamatan hingga perekonomian masyarakat luas,” katanya.

Eddy Raya berharap perubahan cuaca segera terjadi dan hujan turun lebih merata di wilayah Barsel. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu membasahi lahan yang saat ini masih kering sekaligus menekan potensi munculnya Karhutla baru.

Dengan diperpanjangnya status tanggap darurat hingga 2 November, pemerintah daerah diharapkan mampu memperkuat langkah pencegahan, mempercepat penanganan titik api serta meminimalkan dampak kekeringan dan kabut asap terhadap masyarakat. (IB1).