Barito Selatan

Ketika Dunia Kembali Terang: Kisah Dua Warga Barsel Menjemput Harapan dari Balik Kabut Katarak

Sampurna News
75
×

Ketika Dunia Kembali Terang: Kisah Dua Warga Barsel Menjemput Harapan dari Balik Kabut Katarak

Sebarkan artikel ini
Screenshot 2026 10 08 16 30 47 07 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

Foto: Pembukatan Operasi Katarak yang digelar Pemkab Barsel yang bekerjasama dengan PT Adaro Indonesia Rabu (7/10/2026). (ist).

BUNTOK, SampurnaNews.com – Selama bertahun-tahun, dunia bagi Meriati tidak lagi benar-benar sama. Wajah orang-orang di sekelilingnya perlahan menjadi samar. Jalan yang biasa dilalui tidak lagi terlihat seterang dulu. Jarak menjadi sulit diperkirakan. Bahkan hal-hal kecil yang bagi sebagian orang begitu sederhana, bagi perempuan berusia 49 tahun itu berubah menjadi tantangan.

Katarak perlahan seperti menarik tirai di depan matanya. Meriati, warga Desa Sababilah, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan (Barsel), hanya bisa berharap suatu hari nanti pandangannya kembali lebih jelas.

Harapan itu akhirnya datang. Bukan dalam bentuk yang mewah. Bukan pula sesuatu yang sulit dibayangkan. Hanya sebuah kesempatan untuk menjalani operasi.
Namun bagi Meriati, kesempatan tersebut terasa seperti pintu yang kembali terbuka setelah lama tertutup.

Hal serupa juga dirasakan Kakung (51), warga Desa Lembeng, Kecamatan Dusun Selatan. Di usia yang seharusnya masih memungkinkan dirinya beraktivitas dengan leluasa, gangguan penglihatan akibat katarak membuat berbagai aktivitas tidak lagi semudah sebelumnya.

Kini, keduanya menjadi bagian dari masyarakat yang mendapatkan kesempatan menjalani operasi katarak gratis melalui program “Satu Cahaya Berjuta Cerita”, yang digelar di UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah Barsel, Rabu (7/10/2026).

Bagi orang lain, operasi mungkin hanya sebuah tindakan medis. Tetapi bagi Meriati dan Kakung, operasi itu adalah harapan untuk kembali melihat. Melihat lebih jelas. Melihat dunia tanpa kabut.

Ada Harapan di Balik Ruang Operasi
Di tempat kegiatan berlangsung, puluhan mata menunggu giliran.

Ada yang datang bersama keluarga. Ada yang menunggu dengan penuh harap. Ada pula yang mungkin tidak banyak bercerita, tetapi menyimpan satu keinginan yang sama: bisa melihat lebih baik.

Sebanyak 51 mata ditargetkan mendapatkan penanganan dalam kegiatan tersebut. Angka 51 terdengar sederhana.
Tetapi sesungguhnya, angka itu adalah 51 cerita manusia.

Ada orang tua yang ingin kembali melihat wajah anak-anaknya dengan jelas.
Ada warga yang ingin kembali bekerja tanpa rasa khawatir.

Ada keluarga yang berharap orang yang mereka cintai bisa kembali mandiri,
dan ada Meriati serta Kakung yang kini menunggu dunia kembali terlihat lebih terang.

Ucapan mereka pun sederhana.
“Terima kasih.” Hanya dua kata.

Namun di balik dua kata itu tersimpan rasa syukur karena masih ada pihak yang mau datang membantu ketika kemampuan mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara mandiri terbatas.

Bukan Sekadar Operasi Katarak
Kepala Dinas Kesehatan Barsel, dr. Dadang Baskoro Nugroho, mengatakan kegiatan yang dilaksanakan  setiap tahun tersebut memang secara khusus ditujukan bagi masyarakat yang mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan akibat katarak.

Sehingga banyak masyarakat Barsel yang merasakan manfaatnya, karena setalah mengikuti program operasi katarak bisa melatih nomor dan dan dapat beraktivitas seperti biasa.

“Yang dilakukan sekarang ini khusus untuk buta akibat katarak. Kalau kebutaan karena sebab lain, tentunya tidak bisa dilakukan melalui kegiatan ini,” jelasnya.

Menurut Dadang, katarak umumnya berkaitan dengan faktor usia. Namun kondisi tersebut dapat ditangani melalui operasi.

Karena itu, keberadaan program operasi gratis menjadi sangat berarti bagi masyarakat yang membutuhkan, tetapi menghadapi keterbatasan untuk memperoleh pelayanan secara mandiri.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten  (Pemkab) Barsel melalui Dinas Kesehatan bersama PT Adaro Indonesia, PT Sapto Indra Sejati (SIS), PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), dan Yayasan Amanah Bangun Negeri.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Barsel ke-67 tahun 2026.

Dadang menilai kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi dapat diperkuat me
lalui kepedulian berbagai pihak.

“Ini salah satu bentuk kepedulian dari beberapa perusahaan yang disebutkan tadi. Kami mengucapkan terima kasih karena sudah membantu masyarakat. Ini merupakan kebutuhan yang memang sangat diperlukan,” katanya.

Tidak ingin pasien terlalu lama menunggu, tiga dokter spesialis mata turut dihadirkan dalam kegiatan tersebut.
Salah satunya merupakan dokter spesialis mata dari Kalimantan Tengah.

CSR Section Head Adaro Indonesia, Aan Nurhadi, mengatakan keterlibatan tenaga medis lokal juga menjadi bagian dari upaya mempercepat pelayanan.

“Kita hadirkan tiga dokter spesialis mata. Salah satunya dari dokter Kalteng juga supaya lebih cepat, jadi pasien tidak lama menunggu dan bisa selesai lebih cepat,” jelasnya.

Target awal sebanyak 51 mata bahkan diharapkan dapat terlampaui.

“Mudah-mudahan hari ini 51 mata tercapai. Biasanya dokter memberikan bonus, mudah-mudahan nanti bisa dilebihkan dari tim medis,” ujarnya.

Di balik kesibukan tenaga medis, ada wajah-wajah pasien yang menunggu.
Ada kecemasan.
Ada harapan. Serta ada doa agar setelah tindakan selesai, dunia yang selama ini tampak kabur perlahan kembali memiliki warna.

Katarak mungkin hanya sebuah gangguan pada mata. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, dampaknya dapat menjalar jauh ke dalam kehidupan.

Ketika pandangan semakin kabur, keberanian untuk berjalan sendiri bisa berkurang. Pekerjaan menjadi sulit.
Aktivitas sehari-hari membutuhkan bantuan. Bahkan perlahan, seseorang dapat kehilangan sebagian kemandiriannya.

Itulah sebabnya operasi katarak bukan sekadar mengembalikan kemampuan mata untuk melihat. Ia juga dapat membuka kembali kesempatan seseorang untuk menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.

Bagi Meriati, mungkin yang ingin dilihat kembali bukanlah sesuatu yang luar biasa.
Mungkin hanya wajah keluarga.
Halaman rumah.Jalan desa.
Atau cahaya pagi yang selama ini terasa semakin samar.

Bagi Kakung, mungkin harapannya juga sederhana. Bisa kembali beraktivitas tanpa harus terlalu bergantung kepada orang lain.
Karena terkadang, kebahagiaan terbesar tidak datang dari sesuatu yang besar.

Ia datang ketika seseorang kembali mampu melakukan hal-hal kecil yang sebelumnya hilang dari kehidupannya.

Dari Satu Mata, Lahir Banyak Harapan
Hari itu, ruang pelayanan kesehatan bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya operasi.

Ia menjadi tempat bertemunya harapan.
Harapan pasien. Harapan keluarga.
Harapan tenaga kesehatan.Seeta harapan banyak pihak yang ingin melihat masyarakat mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Meriati dan Kakung mungkin hanya dua nama dari puluhan penerima manfaat.
Tetapi kisah mereka menjadi pengingat bahwa di balik sebuah program kesehatan selalu ada manusia yang sedang berjuang.
Ada mata yang ingin melihat.

Ada hati yang ingin kembali tenang.
Ada keluarga yang ingin melihat orang tercinta kembali tersenyum.  Serta ada kehidupan yang menunggu untuk kembali berjalan.

Ketika kabut di depan mata perlahan tersingkap, dunia pun kembali menemukan cahayanya. Bagi sebagian orang, cahaya itu mungkin biasa saja. Namun bagi Meriati, Kakung, dan puluhan penerima manfaat lainnya, cahaya itu adalah harapan.

Sebab ketika seseorang kembali mampu melihat dunia dengan lebih jelas, sesungguhnya bukan hanya penglihatannya yang kembali. Sebagian kehidupannya pun ikut kembali. Sehingga dari satu cahaya yang kembali menyala, lahirlah berjuta cerita. (H.Syarif Hidayat).