Barito Selatan

Ketika Sekolah Dirindukan: Anak-anak Barsel Menunggu Kembali ke Bangku Kelas

Sampurna News
35
×

Ketika Sekolah Dirindukan: Anak-anak Barsel Menunggu Kembali ke Bangku Kelas

Sebarkan artikel ini
Screenshot 2026 09 29 10 55 11 73 680d03679600f7af0b4c700c6b270fe7

BUNTOK,SampurnaNews.com – Ada yang sederhana dari sebuah sekolah: suara bel berbunyi, langkah kaki anak-anak menuju kelas, guru yang berdiri di depan papan tulis, hingga tawa yang pecah ketika jam istirahat tiba.

Bagi sebagian anak, semua itu mungkin terasa biasa. Namun ketika sekolah harus sepi akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hal-hal sederhana tersebut justru berubah menjadi sesuatu yang sangat dirindukan.

Di tengah kondisi udara yang belum sepenuhnya bersahabat, anak-anak di Kabupaten Barito Selatan (Barsel) harus menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Rumah berubah menjadi ruang kelas. Buku dan tugas menjadi teman belajar. Sementara pertemuan dengan guru dan sahabat hanya berlangsung melalui keterbatasan komunikasi dari rumah.

Sekolah yang biasanya menjadi tempat mereka menghabiskan sebagian besar waktu, kini hanya sesekali didatangi. Itupun bukan untuk mengikuti pembelajaran seperti biasanya.

Sejumlah siswa datang bersama orang tua hanya untuk mengantarkan tugas yang diberikan guru. Setelah itu, mereka kembali pulang.

Bagi Imtiyaz Farhana Hidayat, siswa kelas V SD IT Baiturrahman Buntok, momen seperti itu justru membuat kerinduannya terhadap sekolah semakin terasa.

Ia merindukan hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa: duduk bersama teman, mendengarkan guru menjelaskan pelajaran, bercanda saat istirahat dan bermain bersama sebelum kembali masuk kelas.

“Yang paling saya rindukan itu bertemu teman-teman dan guru. Bisa belajar bersama, bercanda dan bermain saat istirahat. Kalau belajar di rumah rasanya berbeda,” ujar Imtiyaz.

Dengan polos, ia berharap kondisi segera membaik sehingga dapat kembali mengenakan seragam, membawa tas dan berangkat ke sekolah seperti sebelum karhutla mengganggu aktivitas belajar.
“Saya ingin segera kembali ke sekolah seperti biasa kalau kondisi sudah aman,” lanjutnya.

Kerinduan itu bukan hanya milik Imtiyaz.
Banyak anak lainnya juga menunggu hari ketika mereka kembali bisa duduk di dalam kelas tanpa harus memikirkan asap dan kualitas udara. Mereka ingin kembali mendengar suara guru secara langsung, berbagi cerita dengan sahabat, bermain saat jam istirahat dan pulang bersama teman-teman.

Bagi anak-anak, sekolah bukan sekadar tempat belajar matematika, membaca dan menulis. Sekolah adalah tempat mereka bertemu dunia. Di sana mereka belajar berbagi, bekerja sama, mengenal perbedaan, menyelesaikan persoalan bersama teman, bahkan belajar menjadi diri mereka sendiri.

Karena itu, ketika aktivitas tersebut terhenti, yang hilang bukan hanya pembelajaran di dalam kelas. Ada rutinitas, interaksi dan kebahagiaan kecil anak-anak yang ikut terhenti.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Selatan, DR.Manat Simanjuntak.Spd.MPd, memahami bahwa anak-anak sudah sangat ingin kembali ke sekolah.

Namun, ia menegaskan keselamatan dan kesehatan peserta didik tetap menjadi pertimbangan utama selama kondisi karhutla dan kualitas udara belum memungkinkan untuk kembali sepenuhnya ke pembelajaran tatap muka.

“Kami tahu anak-anak sudah sangat rindu kembali ke sekolah. Kami juga ingin mereka kembali belajar bersama teman dan guru di dalam kelas. Tetapi jangan sampai keinginan untuk kembali normal justru mengabaikan keselamatan dan kesehatan mereka,” kata Manat.

Menurutnya, PJJ bukan berarti sekolah berhenti dan bukan pula waktu bagi siswa untuk berhenti belajar.

Sebaliknya, kondisi tersebut menuntut guru dan orang tua memberikan perhatian lebih besar kepada anak-anak.

“PJJ bukan berarti anak-anak berhenti belajar dan bukan berarti guru berhenti mengajar. Justru dalam kondisi seperti ini, peran guru dan orang tua menjadi sangat penting untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan pembelajaran,” ujarnya.

Manat meminta tenaga pendidik tidak hanya memberikan tugas kepada siswa, tetapi juga memberikan pendampingan dan memantau perkembangan belajar mereka.

“Jangan sampai anak hanya menerima tugas kemudian selesai. Guru harus tetap memberikan penjelasan, memantau perkembangan belajar dan berkomunikasi dengan orang tua. Kita ingin ketika nanti mereka kembali ke sekolah, tidak ada ketertinggalan yang terlalu jauh,” katanya.

Terlebih, para siswa akan menghadapi berbagai tahapan evaluasi pembelajaran. Karena itu, meski belajar dari rumah, proses pendidikan harus tetap berjalan.

Di tengah keterbatasan pembelajaran tatap muka, Manat juga mendorong tenaga pendidik memanfaatkan teknologi digital agar kehadiran guru tetap dirasakan siswa, meski tidak berada di dalam ruang kelas.

Menurutnya, guru dapat membuat video pembelajaran yang tidak hanya berisi materi, tetapi juga menampilkan visual guru saat menjelaskan pelajaran.

Dengan begitu, siswa tidak sekadar menerima tugas, tetapi tetap mendapatkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan suasana pembelajaran langsung.

“Kita harus memanfaatkan digitalisasi dalam pembelajaran. Kehadiran guru bisa tetap dirasakan di ruang belajar siswa, di mana pun mereka berada. Guru bisa membuat video-video pembelajaran sehingga siswa bisa melihat gurunya sekaligus memahami materi yang disampaikan,” jelas Manat.

Ia menegaskan kondisi darurat tidak boleh membuat inovasi pembelajaran ikut berhenti. Justru, menurutnya, situasi seperti sekarang menjadi momentum bagi tenaga pendidik untuk semakin kreatif dalam mencari metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa.

“Guru harus tetap berinovasi. Jangan sampai kondisi seperti ini membuat proses pembelajaran menjadi monoton. Kita harus mencari cara agar anak-anak tetap tertarik belajar meskipun dari rumah,” katanya.

Untuk mendukung hal tersebut, Dinas Pendidikan Barsel juga memberikan penguatan kapasitas kepada tenaga pendidik melalui pelatihan, bimbingan teknis maupun ruang diskusi.

Salah satunya melalui kegiatan bimbingan teknis pengembangan konten digital yang diikuti sebanyak 324 guru dan kepala sekolah dari seluruh kecamatan di Barsel.

“Disdik juga hadir dalam bentuk pelatihan, bimtek maupun ruang-ruang diskusi. Seperti yang dilaksanakan belum lama ini, ada bimtek pengembangan konten digital yang diikuti 324 guru dan kepala sekolah dari seluruh kecamatan di wilayah Barsel,” ungkapnya.
Screenshot 2026 09 29 09 38 41 92 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7
Foto: Kegiatan Bimtek ya g digelar Disdik Barsel yang dihadiri Komisi III DPRD Barsel.

Masih dikatakan Manat, saat ini ruang-ruang kelas masih menunggu.
Papan tulis masih berada di tempatnya. Bangku-bangku tetap tersusun. Buku-buku masih menanti untuk kembali dibuka di dalam kelas.

Yang belum kembali hanyalah riuh suara anak-anak. Di tengah kondisi karhutla, harapan mereka sebenarnya sederhana.
Bukan sesuatu yang mahal. Bukan pula sesuatu yang sulit dibayangkan.

Mereka hanya ingin kembali mengenakan seragam, membawa tas, berjalan menuju sekolah, lalu duduk di antara teman-temannya.

Mendengar guru mengajar. Tertawa bersama sahabat. Bermain saat istirahat.
Dan kembali merasakan satu hal yang selama ini mungkin dianggap biasa: menjadi anak sekolah.

Manat pun berharap kondisi segera membaik sehingga pembelajaran tatap muka dapat kembali dilaksanakan ketika situasi sudah aman.

“Kita tentu berharap kondisi segera membaik. Begitu situasi dan kualitas udara sudah memungkinkan, kita ingin anak-anak kembali ke sekolah, kembali belajar bersama teman-temannya dan merasakan lagi suasana sekolah seperti biasa,” pungkasnya. (IB1).