Foto: BPBD Barsel bersama tim terpadu saat melakukan pembasahan dan pendinginan (ist).
BUNTOK, SampurnaNews.com – Meski titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, terpantau nihil, ancaman kabut asap masih membayangi masyarakat. Kualitas udara di wilayah tersebut masih berada pada level berbahaya akibat tingginya konsentrasi partikulat di udara.
Berdasarkan data Sipongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pada Jumat (16/10/2026) pukul 14.30 WIB, tidak terdeteksi adanya hotspot di wilayah Kabupaten Barsel.
Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menandakan ancaman karhutla telah berakhir. Asap masih cukup tebal menyelimuti sejumlah wilayah, sementara konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat mencapai 777 mikrogram per meter kubik pada waktu yang sama.
Sementara itu, konsentrasi partikulat PM10 pada pukul 07.00 WIB tercatat mencapai 814 mikrogram per meter kubik.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barsel, Agus In Yulius, ST, MT, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Edi Darmadi, S.Sos, MM, menjelaskan bahwa kabut asap yang masih menyelimuti wilayah Barsel diduga berasal dari sisa kebakaran hutan dan lahan yang belum sepenuhnya padam, terutama di kawasan lahan gambut.
“Masih tebalnya kabut asap ini diduga akibat sisa kebakaran hutan dan lahan yang belum padam sepenuhnya, terutama pada lahan gambut. Sehingga asap masih muncul dari bekas-bekas lahan yang terbakar,” kata Edi kepada awak media.
Menurutnya, BPBD bersama tim gabungan terus melakukan upaya pembasahan dan pendinginan di sejumlah lokasi bekas kebakaran yang masih mengeluarkan asap. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya kembali titik api dan mengurangi potensi meluasnya kebakaran.
Edi juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, mengingat tingginya konsentrasi partikulat dapat mengganggu kesehatan, khususnya sistem pernapasan.
“Masyarakat dihimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak, menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar rumah, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, atau iritasi mata,” katanya.
Selain itu, warga diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan kepulan asap atau indikasi kebakaran di lingkungan sekitar.
“Kondisi ini menjadi pengingat bahwa nihilnya hotspot yang terpantau belum tentu berarti kebakaran telah sepenuhnya padam. Terlebih di lahan gambut, bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali memicu kebakaran jika tidak ditangani secara menyeluruh,” tutupnya. (IB1).







