Foto: Tim gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan lahan untuk mencegah api kembali menyala.
BUNTOK, SampurnaNews.com – Jumlah titik panas atau hotspot di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, anjlok dari 97 menjadi hanya empat titik. Namun, penurunan drastis tersebut belum menjadi jaminan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah berakhir. Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah, sementara kualitas udara dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat tetap menjadi perhatian.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan melalui laman Sipongi, Selasa (13/10/2026), empat titik panas terdeteksi di Kecamatan Dusun Hilir. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan sehari sebelumnya, ketika 97 titik panas terpantau tersebar di lima kecamatan, dengan konsentrasi terbanyak di Kecamatan Dusun Hilir dan Dusun Selatan.
Penurunan tersebut menjadi perkembangan positif dalam penanganan karhutla. Meski demikian, masyarakat diminta tidak lengah karena asap masih terlihat di sejumlah kawasan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barsel, Agus In’ Yulius, ST, MT, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Edi Darmadi, S.Sos., MM, menyambut baik penurunan jumlah titik panas tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi di lapangan masih membutuhkan kewaspadaan.
“Kita bersyukur karena hotspot di Barsel saat ini kembali turun. Namun, masyarakat tetap harus waspada karena kabut asap masih cukup tebal,” ujar Edi.
Foto: Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Barsel, Edi Darmadi, S.Sos., MM,
Menurutnya, berkurangnya titik panas yang terdeteksi satelit tidak serta-merta menandakan seluruh titik kebakaran telah padam. Terlebih, kebakaran di kawasan gambut dapat menyisakan bara di bawah permukaan tanah yang sulit terdeteksi secara kasatmata.
“Bara tersebut berpotensi terus menghasilkan asap dan kembali memicu kebakaran apabila kondisi lingkungan mendukung. Karena itu, pemantauan lapangan, pemadaman, dan pendinginan lahan tetap diperlukan meskipun jumlah hotspot menurun,” jelasnya.
Ditengah penurunan jumlah titik panas, kondisi kualitas udara di Barsel masih mengkhawatirkan. Edi menyebut konsentrasi partikulat PM10 berada di kisaran 1.000, sedangkan PM2.5 sekitar 652.
“Angka tersebut perlu disertai informasi mengenai satuan, waktu pengukuran, dan sumber pemantauan agar tingkat risiko kualitas udara dapat dinilai secara tepat. Tanpa keterangan itu, angka tersebut belum cukup untuk memastikan kategori kualitas udara yang berlaku,” katanya.
Paparan partikel halus dari asap kebakaran dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel asap.
“Karena kondisi udara di Barsel masih tergolong berbahaya, masyarakat kami imbau menggunakan masker apabila beraktivitas di luar rumah,” ujar Edi.
Masih dikatakan Edi, penurunan hotspot dari 97 menjadi empat titik memang memberikan harapan bahwa upaya penanganan karhutla mulai menunjukkan hasil. Namun, keberhasilan penanganan tidak cukup diukur hanya dari angka yang terpantau satelit.
“Kabut asap yang masih bertahan menjadi pengingat bahwa sumber asap harus terus ditelusuri dan kawasan rawan perlu diawasi. Tim gabungan juga terus berupaya memastikan lokasi bekas kebakaran, terutama di lahan gambut, benar-benar dingin dan tidak menyisakan bara yang dapat menyala kembali,” jelasnya.
BPBD bersama tim gabungan terus melakukan upaya penanganan dan pemantauan. Masyarakat pun diminta segera melaporkan apabila menemukan kepulan asap atau indikasi kebakaran baru agar dapat ditindaklanjuti secepatnya.
“Meski jumlah titik panas telah turun drastis, ancaman karhutla di Barsel belum sepenuhnya berakhir. Selama kabut asap masih menyelimuti wilayah dan potensi bara api belum sepenuhnya dapat dipastikan padam, kewaspadaan serta perlindungan kesehatan masyarakat harus tetap menjadi prioritas,” tutupnya (IB1)







